Sang putra pertama..

November 21, 2008 by yd  
Filed under Renungan

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang yang sudah berumur. Si menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” , ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si .

“Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin saya yang ke dua”,jawab itu.

” Wouw… hebat sekali putra itu menyahut dan terdiam sejenak.

itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah , yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu ?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya ??”

” Oh ya tentu ” si bercerita :  ” saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

tadi diam, hebat ini, bisa mendidik -anaknya dengan sangat baik, dari kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan pertama ?? ”

Sambil menghela napas panjang, itu menjawab, ” saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau agak kecewa ya dengan pertama , adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “

Apakah kamu mau tahu jawaban si ??

Please klik disini, please ..

Read more

Kisah haru di musim dingin

November 21, 2008 by yd  
Filed under Renungan

Kisah haru di musim dingin

Siu Lan, seorang miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun,
Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri - dan
menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan
membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti kecil
lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat , Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang yang baru.

Pulang dari membeli keranjang , Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain
dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya
untuk menjual . Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari
luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran,
pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang , Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan
sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan dan menangis
meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan
membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan
nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.
Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus
kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada
kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap
terbaca - **,”Hi..hi..hi. . pasti lupa. Ini hari istimewa buat . Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli
biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. selamat ulang
tahun.”**

———— ——-
Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

Mengapa Mama Menangis?

November 11, 2008 by yd  
Filed under Renungan

Dedicated to my Mom dan seluruh

Seorang laki-laki kecil bertanya kepada nya ‘Mengapa menangis?’
‘Karena aku seorang ‘, kata sang kepadanya.
‘Aku tidak mengerti’, kata itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata, ‘Dan kau tak akan pernah mengerti’
Kemudian laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, ‘Mengapa suka menangis tanpa alasan?’
‘Semua menangis tanpa alasan’, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki ,tetap ingin tahu mengapa menangis.

Akhirnya ia menghubungi , dan ia bertanya, ‘, mengapa begitu mudah menangis?’

berkata:
‘Ketika Aku menciptakan seorang ,ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa.
Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia;
namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan ‘

‘Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan dan menerima penolakan yang seringkali datang dari -anaknya ‘

‘Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah,dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh ‘

‘Aku memberinya kepekaan untuk mencintai -anaknya dalam setiap keadaan,bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya ‘

‘Aku memberinya kekuatan untuk mendukung nya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk nya untuk melindungi hatinya ‘

‘Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi nya tanpa ragu ‘

‘Dan akhirnya,
Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah khusus miliknya
untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.’

‘Kau tahu:

Kecantikan seorang
bukanlah dari pakaian yang dikenakannya,
sosok yang ia tampilkan,
atau bagaimana ia menyisir rambutnya.’

‘Kecantikan seorang
harus dilihat dari matanya,
karena itulah pintu hatinya -
tempat dimana itu ada.’

Kerja adalah Kehormatan

November 4, 2008 by yd  
Filed under Inspirasi

Seorang yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat itu makan datanglah seorang kecil laki-laki kepada tersebut,”Pak mau beli , Pak ?”

Dengan ramah yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”. kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi setelah itu selesai makan, tersebut menjawab “tidak dek saya sudah kenyang”.

Setelah itu membayar kekasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, kecil penjaja tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian buatan . Read more

Mampukah mencintai Istri kita tanpa syarat?

November 4, 2008 by yd  
Filed under Renungan

Secara nggak sengaja, saya menemukan kisah ini. Suatu kisah yang sepatutnya kita simak dan kita renungi bersama. Mampukah dan rela kah kita seperti kisah ini?

….

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat nya yang sakit, istrinya juga sudah tua. Mereka sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat dia letakan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa . Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup Read more

Next Page »

server monitor check web page